Posisi aparat keamanan sering kali berada di persimpangan jalan saat terjadi perselisihan antara pengembang proyek strategis nasional dengan warga lokal, memicu perdebatan mengenai Hak Rakyat yang terkadang terpinggirkan demi percepatan pembangunan. Di Mataram, kepolisian menghadapi tantangan besar dalam menjalankan fungsi pengamanan tanpa terlihat memihak pada salah satu pihak. Keseimbangan antara mendukung kebijakan ekonomi pemerintah dan memastikan tidak ada hak-hak masyarakat yang dilanggar merupakan tugas berat yang menuntut integritas tinggi agar polisi tidak dianggap sebagai alat penindas oleh rakyatnya sendiri.
Munculnya sengketa lahan sering kali menjadi pemicu ketegangan di mana tuntutan akan pemenuhan Hak Rakyat berbenturan dengan legalitas formal yang dimiliki oleh investor. Dalam situasi seperti ini, Polres Mataram harus mengedepankan pendekatan persuasif dan bertindak sebagai fasilitator komunikasi. Pengamanan di lokasi proyek sering kali disalahpahami sebagai bentuk intimidasi, padahal tujuannya adalah mencegah terjadinya benturan fisik yang bisa merugikan kedua belah pihak. Keterbukaan informasi mengenai ganti rugi yang adil dan proses relokasi yang manusiawi menjadi kunci utama untuk meredam potensi penolakan massal yang bersifat anarkis.
Penegakan hukum tidak boleh mengabaikan aspek keadilan sosial, terutama dalam isu yang menyentuh Hak Rakyat atas tanah dan sumber daya alam. Polisi harus jeli melihat kebenaran dokumen hukum sambil tetap memperhatikan kearifan lokal yang berlaku di masyarakat Sasak. Jika tindakan pengamanan dilakukan dengan cara-cara yang represif, maka luka sosial yang timbul akan sulit disembuhkan dan justru menghambat kelancaran investasi itu sendiri dalam jangka panjang. Stabilitas keamanan yang hakiki hanya bisa dicapai jika masyarakat merasa dilibatkan dan mendapatkan manfaat nyata dari setiap proyek pembangunan yang dilakukan di wilayah mereka.
Selain masalah lahan, perlindungan terhadap Hak Rakyat juga mencakup keamanan dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Polres Mataram terus berupaya mengawal setiap aksi demonstrasi agar tetap berjalan tertib tanpa harus membatasi kebebasan berekspresi. Polisi harus mampu membedakan antara warga yang menyuarakan aspirasi murni dengan kelompok yang ingin memprovokasi kerusuhan demi kepentingan pribadi. Profesionalisme anggota di lapangan sangat menentukan apakah polisi akan dikenang sebagai pelindung rakyat atau sekadar penjaga gerbang kepentingan ekonomi tertentu yang jauh dari rasa keadilan sosial bagi seluruh masyarakat NTB.
