Polisi dan Trauma Healing: Mendampingi Korban Bencana Kembali Bangkit

Dampak bencana alam tidak hanya terlihat dari kerusakan fisik infrastruktur, tetapi juga meninggalkan luka mendalam secara psikologis pada para korban. Setelah fase darurat evakuasi berlalu, proses pemulihan mental dan emosional menjadi sangat penting agar korban dapat kembali bangkit dan melanjutkan hidup mereka. Dalam konteks ini, peran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah meluas dari sekadar penegak hukum menjadi agen pemulihan trauma. Inilah inti dari komitmen Polisi dan Trauma Healing: Mendampingi Korban Bencana Kembali Bangkit. Tugas ini dilaksanakan oleh unit khusus, yaitu Tim Psikologi dan Personel Polwan (Polisi Wanita), yang dilatih untuk memberikan dukungan psikososial. Contoh nyata dapat dilihat pasca-erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur, pada hari Minggu, 4 Desember 2022, di mana tim trauma healing dari Polres Lumajang segera diterjunkan ke lokasi pengungsian.

Prosedur pendampingan psikososial yang dilakukan oleh Polri sangat terstruktur. Tim trauma healing Polres Lumajang, yang dipimpin oleh AKP dr. Siti Fatimah (Psikolog Polri), memulai operasinya di posko pengungsian Desa Sumberwuluh pada hari Senin, 5 Desember 2022, pukul 09.00 WIB. Mereka memprioritaskan kelompok rentan, yaitu anak-anak, wanita, dan lansia, yang biasanya paling rentan mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau kecemasan parah. Strategi yang diterapkan dalam Polisi dan Trauma Healing: Mendampingi Korban Bencana Kembali Bangkit ini berbeda-beda sesuai kelompok usia.

Untuk anak-anak, terapi trauma dilakukan melalui kegiatan bermain (play therapy) yang ceria dan edukatif. Personel Polwan menggunakan pakaian kasual, mendongeng, bernyanyi, dan mengajak anak-anak menggambar. Kegiatan ini bertujuan untuk mengalihkan fokus mereka dari ingatan menakutkan tentang bencana dan memberikan rasa aman dalam suasana yang menyenangkan. Dalam sesi yang diadakan di tenda khusus anak-anak di Sumberwuluh, terlihat puluhan anak usia 4 hingga 12 tahun yang awalnya diam dan murung, mulai tertawa dan berinteraksi. Pendekatan ini merupakan upaya kritis dalam memulihkan kondisi mental anak.

Sementara itu, untuk korban dewasa dan lansia, pendekatan yang digunakan dalam Polisi dan Trauma Healing: Mendampingi Korban Bencana Kembali Bangkit adalah sesi konseling individu dan kelompok. Polisi memberikan ruang aman bagi korban untuk berbagi pengalaman dan perasaan mereka tanpa dihakimi. Polwan berperan penting dalam mendekati korban perempuan, memberikan empati, dan mengajarkan teknik relaksasi sederhana untuk mengelola kepanikan dan kegelisahan. Tim juga membantu korban lansia untuk kembali terhubung dengan dukungan sosial mereka. Pendampingan ini bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi proses berkelanjutan yang bertujuan memperkuat mekanisme koping (cara mengatasi masalah) korban.

Kehadiran Polri dalam program trauma healing ini menegaskan peran humanis kepolisian. Dengan seragam cokelat yang dikenal sebagai simbol otoritas, anggota Polri memberikan jaminan keamanan fisik sekaligus stabilitas emosional. Pada akhir masa tanggap darurat, tercatat tim trauma healing Polres Lumajang telah menjangkau lebih dari 800 korban di lima titik pengungsian utama. Komitmen ini membuktikan bahwa peran Polisi dan Trauma Healing: Mendampingi Korban Bencana Kembali Bangkit adalah investasi jangka panjang dalam pembangunan kembali masyarakat yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga sehat secara mental pasca-bencana.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa