Operasi Simpati: Pendekatan Humanis Polwan dan Polisi Anak Dalam Perlindungan Perempuan dan Anak

Perlindungan terhadap kelompok rentan, terutama perempuan dan anak, telah menjadi fokus utama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mewujudkan pelayanan yang berkeadilan dan penuh empati. Untuk mencapai tujuan ini, Polri meluncurkan program-program khusus seperti Operasi Simpati yang secara spesifik mengedepankan Pendekatan Humanis dalam setiap tahap penanganan kasus, mulai dari pelaporan hingga proses penyidikan. Pendekatan Humanis ini diimplementasikan secara intensif oleh personel Polisi Wanita (Polwan) dan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) karena peran mereka yang dianggap mampu membangun rasa aman dan nyaman bagi korban.

Kebutuhan akan Pendekatan Humanis menjadi sangat mendesak karena korban kekerasan, baik fisik maupun seksual, seringkali mengalami trauma psikologis mendalam yang membuat mereka enggan atau sulit untuk memberikan keterangan. Kehadiran Polwan dalam Unit PPA merupakan langkah strategis karena korban perempuan dan anak cenderung merasa lebih aman dan nyaman berbicara dengan sesama perempuan. Di Polda Jawa Barat, misalnya, Unit PPA dilengkapi dengan ruang khusus yang ramah anak dan korban, dirancang dengan warna-warna menenangkan dan fasilitas bermain, jauh dari kesan ruang interogasi yang menakutkan. Kompol Risa Andriani, S.Psi, Kepala Unit PPA Polrestabes Bandung, dalam sebuah workshop pelatihan pada Rabu, 20 November 2024, menekankan bahwa proses pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati, memastikan tidak ada pertanyaan yang bersifat re-victimization atau menyudutkan korban.

Selain itu, Pendekatan Humanis juga diintegrasikan dalam program sosialisasi dan pencegahan. Polisi Anak, yang merupakan bagian dari Unit PPA, secara rutin mengunjungi sekolah-sekolah di berbagai jenjang. Di Sekolah Dasar Negeri 05, Kota Semarang, pada Kamis, 5 Desember 2024, Polisi Anak mengadakan sesi edukasi interaktif mengenai bahaya bullying dan sentuhan tidak pantas, menggunakan media boneka dan permainan. Program preventif ini sangat penting untuk memberikan bekal pengetahuan perlindungan diri sejak dini. Data Polri mencatat, sejak intensifikasi Operasi Simpati pada awal 2025, persentase pelaporan kasus kekerasan anak dan perempuan meningkat sebesar 10% di wilayah Jawa Tengah, sebuah indikasi positif bahwa korban merasa lebih percaya dan berani untuk melapor.

Komitmen Polri untuk memberikan perlindungan penuh ditunjukkan pula dengan kerjasama lintas sektoral. Unit PPA bekerja sama erat dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) serta psikolog profesional. Dalam setiap kasus kekerasan seksual terhadap anak, Polwan memastikan bahwa korban didampingi psikolog sejak awal pelaporan hingga persidangan. Kasus penganiayaan anak di Kabupaten Bogor pada Februari 2025, yang melibatkan tersangka orang terdekat, berhasil diungkap dan ditangani secara komprehensif. Polwan PPA memastikan pendampingan hukum dan psikologis korban dilakukan penuh selama lima bulan proses hukum berjalan, menjadikan penegakan hukum ini bukan hanya tentang hukuman bagi pelaku, tetapi juga pemulihan bagi korban. Upaya ini menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak hanya terletak pada kewajiban, tetapi juga pada ketulusan untuk mengayomi dan melindungi.

Theme: Overlay by Kaira Extra Text
Cape Town, South Africa