Dinding jeruji besi sering kali dipandang sebagai batas akhir bagi kebebasan dan interaksi sosial yang hangat. Namun, di balik dinginnya tembok sel, sebuah pemandangan berbeda tersaji selama bulan suci Ramadan di Nusa Tenggara Barat. Sebuah kegiatan yang sangat menyentuh sisi kemanusiaan dilaksanakan sebagai bagian dari program pembinaan mental bagi warga binaan yang sedang menjalani proses hukum. Program tadarus bersama ini dirancang untuk memberikan ruang bagi para penghuni sel agar tetap bisa merasakan kekhusyukan ibadah dan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri melalui pendekatan spiritual yang mendalam di tengah keterbatasan ruang gerak mereka.
Kegiatan ini menciptakan sebuah momen haru yang jarang terekspos ke publik, di mana para petugas kepolisian duduk melingkar bersama para tahanan dengan alas seadanya untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tidak ada sekat kaku antara penjaga dan yang dijaga; yang ada hanyalah sesama hamba yang sedang berupaya mencari ketenangan batin. Isak tangis sering kali pecah saat beberapa tahanan teringat akan keluarga di rumah atau menyesali perbuatan masa lalu yang membawa mereka ke tempat ini. Polisi hadir sebagai pendamping yang memberikan penguatan moral, meyakinkan mereka bahwa pintu taubat selalu terbuka dan masa depan yang lebih baik masih bisa diraih setelah masa hukuman usai.
Pelaksanaan kegiatan ini dipusatkan di dalam rutan yang telah dikondisikan agar tetap nyaman untuk beribadah. Setiap malam setelah shalat tarawih, suasana sel yang biasanya bising dengan keluh kesah berubah menjadi tenang dengan gema bacaan ayat suci. Bagi para tahanan, kegiatan ini menjadi pelipur lara dan cara terbaik untuk membunuh rasa sepi selama bulan Ramadan. Banyak dari mereka yang sebelumnya jarang menyentuh kitab suci, kini mulai belajar mengeja kembali huruf-huruf hijaiyah dengan bimbingan petugas atau sesama rekan tahanan yang lebih paham. Perubahan perilaku ke arah yang lebih positif mulai terlihat jelas selama program ini berlangsung secara rutin.
Manajemen Polres Mataram memandang bahwa pendekatan hukuman tidak akan efektif tanpa adanya sentuhan spiritual. Penjara bukan hanya tempat untuk memberikan sanksi fisik, tetapi harus menjadi tempat rehabilitasi mental dan karakter. Dengan mengajak para tahanan berinteraksi secara religius, emosi negatif yang sering kali memicu keributan di dalam sel dapat diredam secara alami. Mereka diajarkan untuk saling menghargai dan mendukung satu sama lain dalam kebaikan. Hal ini sangat membantu petugas dalam menjaga ketertiban di lingkungan rutan, karena tercipta rasa saling percaya dan kerja sama yang baik antara penghuni sel dengan pihak kepolisian.
