Radikalisme dan terorisme adalah ancaman nyata bagi keutuhan bangsa, dan pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapinya. Dalam konteks ini, peran Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) menjadi sangat krusial. Sebagai ujung tombak Polri yang paling dekat dengan masyarakat, Bhabinkamtibmas memiliki posisi strategis untuk mendeteksi dini potensi ancaman radikalisme. Mereka tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi agen perdamaian dan deradikalisasi. Melalui interaksi yang intens dan membangun kepercayaan, Bhabinkamtibmas mampu menjadi mata dan telinga kepolisian, mendengarkan keluh kesah warga, dan mengidentifikasi bibit-bibit ideologi ekstrem yang mungkin muncul di lingkungan mereka.
Salah satu tugas utama dari peran Bhabinkamtibmas adalah melakukan patroli dan sambang ke berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, hingga pemuda. Melalui kegiatan rutin ini, mereka membangun komunikasi yang kuat dan menjalin hubungan personal yang erat dengan warga. Misalnya, pada 15 Mei 2025, Bhabinkamtibmas Kelurahan Suka Maju, Bripka Heri Susanto, mengadakan pertemuan rutin dengan tokoh agama setempat. Dalam pertemuan itu, ia berdiskusi tentang cara menangkal paham radikal dan menyebarkan pesan perdamaian di lingkungan masjid. Dengan adanya interaksi proaktif ini, Bhabinkamtibmas dapat dengan cepat mengetahui jika ada individu atau kelompok yang mulai terpapar ajaran menyimpang.
Selain itu, peran Bhabinkamtibmas juga mencakup edukasi kepada masyarakat tentang bahaya radikalisme. Mereka sering mengadakan penyuluhan di sekolah, pondok pesantren, dan pertemuan warga. Pada 20 Februari 2025, Aipda Yulianto dari Polsek Purwokerto Utara memberikan sosialisasi kepada 100 siswa SMA tentang ciri-ciri ajaran radikal dan bagaimana cara melaporkan jika menemukan hal-hal mencurigakan. Melalui pendekatan yang humanis dan persuasif, Bhabinkamtibmas tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebangsaan. Hal ini penting untuk membentengi generasi muda dari pengaruh ekstremisme yang sering menyebar melalui media sosial dan forum daring.
Peran Bhabinkamtibmas juga terlihat dalam penanganan kasus yang melibatkan individu yang telah terpapar radikalisme. Alih-alih langsung menggunakan pendekatan represif, mereka seringkali menjadi jembatan antara keluarga dan pelaku untuk proses deradikalisasi. Bhabinkamtibmas bekerja sama dengan tokoh masyarakat, psikolog, dan lembaga terkait untuk membantu pelaku kembali ke jalan yang benar. Pada 5 April 2025, di sebuah desa di Jawa Tengah, Bhabinkamtibmas Bripka Slamet Riyadi berhasil meyakinkan seorang pemuda yang terpengaruh ideologi ekstrem untuk mengikuti program deradikalisasi. Berkat pendekatan personal dan kepercayaan yang telah terjalin, pemuda tersebut bersedia untuk dibina dan kembali berinteraksi dengan masyarakat.
Secara keseluruhan, pencegahan radikalisme adalah pekerjaan yang membutuhkan pendekatan komprehensif dari hulu ke hilir. Di level paling bawah, peran Bhabinkamtibmas adalah kunci utama. Dengan peran Bhabinkamtibmas yang terus ditingkatkan melalui pelatihan dan dukungan, mereka akan menjadi pilar utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban di setiap sudut desa dan kelurahan, memastikan bahwa ideologi radikal tidak memiliki ruang untuk tumbuh di tanah air.
