Kesan polisi sebagai sosok yang disiplin dan tegas sering kali menyelimuti ruang publik. Namun, di balik seragam cokelat tersebut, banyak tersimpan profil individu yang memiliki kedalaman ilmu agama yang mengagumkan. Di wilayah Nusa Tenggara Barat, muncul sebuah fenomena yang menarik perhatian masyarakat luas mengenai profil seorang Polisi Santri. Mereka adalah personel kepolisian yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren dan kemampuan literasi agama yang kuat. Keberadaan mereka menjadi jembatan yang sangat efektif untuk mendekatkan kepolisian dengan masyarakat yang dikenal sangat religius, sehingga pesan-pesan ketertiban dapat disampaikan melalui bahasa yang lebih menyentuh qalbu.
Tugas pokok seorang anggota bhabinkamtibmas di wilayah hukum Polres Mataram tidak hanya sekadar melakukan patroli atau pendataan warga. Bagi mereka yang memiliki kemampuan agama, tugas tersebut bertransformasi menjadi pengabdian yang lebih luas. Di berbagai kesempatan, personel ini sering kali diminta oleh warga untuk Jadi Imam di masjid-masjid kampung saat waktu salat tiba. Fenomena ini menciptakan kedekatan yang luar biasa. Masyarakat merasa sangat bangga dan nyaman ketika pemimpin ibadah mereka adalah seorang penjaga keamanan negara. Kepercayaan ini menjadi modal sosial yang sangat besar bagi polisi untuk mengajak warga bersama-sama menjaga lingkungan dari pengaruh buruk seperti radikalisme dan kriminalitas.
Keberadaan sosok pelindung masyarakat di Desa Binaan dengan gaya pendekatan yang religius ini terbukti mampu menurunkan angka pertikaian antarwarga. Ketika terjadi perselisihan, polisi santri ini sering kali menggunakan pendekatan mediasi yang bersumber dari ajaran agama tentang perdamaian dan persaudaraan. Kalimat-kalimat yang bijak dan penguasaan dalil yang tepat membuat warga lebih mudah untuk luluh dan memilih jalan damai. Hal ini menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak selamanya harus berakhir di jeruji besi, tetapi bisa dimulai dengan rekonsiliasi hati. Pendekatan humanis inilah yang membuat kehadiran polisi sangat dinanti-nantikan oleh warga di setiap pelosok desa.
Kisah-kisah inspiratif dari para personel ini sering kali menjadi teladan bagi anggota polisi lainnya. Mereka membuktikan bahwa profesi sebagai pelindung rakyat dan identitas sebagai seorang muslim yang taat adalah dua hal yang saling menguatkan. Polisi yang paham agama cenderung memiliki integritas yang tinggi dalam bekerja, karena mereka sadar bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Di wilayah Mataram, program ini terus didorong agar setiap personel memiliki kompetensi tambahan dalam hal komunikasi sosial berbasis keagamaan. Dengan demikian, Polri tidak hanya tampil sebagai penegak aturan yang kaku, tetapi juga sebagai pencerah moral yang mampu membimbing masyarakat ke arah yang lebih baik.
