Bulan yang penuh berkah seharusnya menjadi masa di mana setiap individu merasakan ketenangan dan perlindungan maksimal di dalam lingkungan keluarga. Namun, data terbaru di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat menunjukkan tren yang menyedihkan mengenai kasus kekerasan anak yang justru mengalami lonjakan selama periode Ramadan. Tekanan ekonomi yang meningkat menjelang hari raya serta tingginya tingkat stres di dalam rumah tangga disinyalir menjadi faktor pemicu utama terjadinya tindakan kekerasan fisik maupun verbal terhadap anak-anak. Hal ini merupakan tamparan keras bagi fungsi pengasuhan dan perlindungan yang seharusnya menjadi prioritas utama di setiap rumah tangga.
Fenomena meningkatnya kasus kekerasan anak ini seringkali terjadi di balik pintu tertutup, sehingga sulit untuk dideteksi secara dini oleh pihak berwenang. Anak-anak yang menjadi korban cenderung merasa takut untuk melaporkan tindakan orang tua atau kerabat mereka karena adanya ketergantungan ekonomi dan emosional. Jika tidak ada intervensi yang cepat dari lingkungan sekitar atau lembaga perlindungan anak, dampak trauma yang dialami korban akan menetap hingga mereka dewasa dan berpotensi merusak perkembangan mental mereka secara permanen. Kekerasan tidak pernah menjadi solusi dalam pendidikan karakter, justru merupakan bentuk kegagalan komunikasi yang fatal.
Pemerintah Kota Mataram melalui dinas sosial dan perlindungan perempuan harus lebih proaktif dalam membuka kanal pengaduan yang mudah diakses oleh masyarakat luas. Masalah tingginya kasus kekerasan anak menuntut adanya respons cepat dari petugas lapangan untuk melakukan pendampingan psikologis dan hukum bagi para korban. Selain itu, keterlibatan tokoh masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai pola asuh yang islami dan penuh kasih sayang selama bulan suci sangatlah penting. Ramadan seharusnya menjadi momen untuk mempererat ikatan keluarga melalui kesabaran dan empati, bukan justru menjadi ajang pelampiasan kekesalan terhadap anggota keluarga yang paling lemah.
Dukungan dari lingkungan tetangga juga sangat krusial dalam meminimalisir risiko terjadinya kasus kekerasan anak di lingkungan sekitar. Masyarakat tidak boleh bersikap acuh tak acuh jika mendengar atau melihat indikasi penganiayaan di rumah sebelah dengan alasan tidak ingin mencampuri urusan domestik orang lain. Keamanan anak adalah tanggung jawab bersama sebagai satu komunitas. Melaporkan tindakan kekerasan adalah bentuk nyata dari kepedulian sosial untuk menyelamatkan masa depan seorang anak manusia dari ancaman trauma yang berkepanjangan.
