Kegiatan Jumat Curhat ini biasanya dilaksanakan di lokasi-lokasi yang menjadi pusat berkumpulnya warga, seperti masjid usai salat Jumat, pasar tradisional, pangkalan ojek, hingga balai warga di kelurahan. Konsepnya sangat sederhana: duduk bersama, mendengarkan, dan mencari solusi. Pejabat kepolisian setempat, mulai dari Kapolres hingga para Kapolsek, turun langsung untuk mendengar keluhan tanpa melalui prosedur surat-menyurat yang rumit. Hal ini menciptakan suasana yang cair sehingga warga merasa lebih nyaman untuk menyampaikan informasi sensitif, seperti adanya peredaran narkoba, aksi premanisme, hingga kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di titik tertentu.
Tujuan utama dari langkah Polisi Dengar Aspirasi ini adalah untuk mengevaluasi kinerja personel di lapangan serta memastikan bahwa kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan masyarakat Mataram. Seringkali, permasalahan yang disampaikan warga bukanlah hal-hal yang bersifat pidana berat, melainkan gangguan ketertiban yang sering luput dari pengawasan rutin. Misalnya, keluhan mengenai lampu jalan yang mati di area rawan, suara bising knalpot pada malam hari, atau sengketa batas lahan antar tetangga. Dengan mendengarkan secara langsung, polisi dapat segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait atau menerjunkan tim patroli tambahan ke lokasi tersebut.
Respon terhadap keluhan warga dilakukan secara Langsung dan transparan. Dalam setiap sesi, petugas biasanya mencatat poin-poin masukan dan memberikan jawaban atau janji tindak lanjut yang terukur. Jika permasalahan tersebut merupakan wewenang kepolisian, maka instruksi diberikan saat itu juga kepada unit operasional. Namun, jika masalahnya berkaitan dengan layanan publik lain seperti infrastruktur atau kebersihan, pihak kepolisian berkomitmen untuk meneruskan aspirasi tersebut kepada pemerintah kota. Pola komunikasi dua arah ini terbukti sangat efektif dalam meredam potensi konflik dan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap keamanan lingkungannya.
Di wilayah Mataram, program ini juga menjadi sarana yang ampuh untuk menangkal penyebaran berita bohong atau hoaks yang seringkali memicu keresahan. Dalam sesi dialog, warga dapat mengklarifikasi berbagai isu yang beredar di media sosial langsung kepada sumber otoritas yang sah. Edukasi hukum juga diselipkan secara santai agar warga lebih memahami batasan-batasan aturan tanpa merasa digurui. Kedekatan emosional yang terbangun melalui kegiatan mingguan ini secara signifikan meningkatkan indeks kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian di wilayah hukum Mataram.
