Penyebaran informasi palsu atau hoaks di media sosial telah menjadi tantangan besar dalam kehidupan bermasyarakat kita saat ini. Seringkali, sumber penyebaran tersebut justru berasal dari lingkungan pertemanan terdekat atau grup keluarga sendiri. Menghadapi situasi ini memerlukan penerapan etika sosmed yang baik agar niat kita untuk meluruskan informasi tidak merusak hubungan pertemanan yang sudah terjalin. Menegur seseorang yang menyebarkan hoaks harus dilakukan dengan kepala dingin dan pendekatan yang komunikatif, karena sebagian besar penyebar hoaks melakukannya karena kurangnya literasi digital, bukan karena niat jahat untuk menipu.
Langkah pertama dalam menjalankan etika sosmed adalah menghindari menegur secara terbuka di kolom komentar yang bisa dilihat oleh banyak orang. Teguran di ruang publik seringkali membuat orang merasa dipermalukan atau diserang secara pribadi, yang justru akan memicu sikap defensif. Sebaiknya, gunakan fitur pesan pribadi (Direct Message atau Private Chat) untuk berkomunikasi. Mulailah pembicaraan dengan nada yang ramah dan tunjukkan rasa peduli Anda. Misalnya, Anda bisa mengatakan bahwa Anda juga sempat melihat berita tersebut namun telah menemukan fakta yang berbeda dari sumber yang lebih tepercaya dan kredibel.
Saat meluruskan informasi, selalu sertakan bukti atau tautan dari situs verifikasi fakta resmi (seperti kominfo.go.id atau cekfakta.com). Dalam koridor etika sosmed, memberikan data yang valid jauh lebih efektif daripada sekadar berargumen tanpa dasar. Jelaskan secara perlahan mengapa berita tersebut dikategorikan sebagai hoaks, misalnya karena judulnya yang terlalu provokatif atau sumbernya yang tidak jelas. Ingatkan juga mengenai dampak buruk dari penyebaran hoaks, seperti memicu kepanikan massal atau perpecahan antar kelompok. Dengan cara ini, teman Anda akan merasa sedang diajak berdiskusi, bukan sedang diadili atau diceramahi.
Sabar dan tetap sopan adalah inti dari etika sosmed yang sukses. Jika setelah ditegur teman tersebut tetap bersikeras dengan pendapatnya, jangan terpancing untuk berdebat panjang lebar yang berujung pada pertengkaran. Cukup sampaikan bahwa kewajiban Anda sebagai teman untuk saling mengingatkan sudah dilakukan. Di sisi lain, kita juga perlu memberikan apresiasi jika mereka mau menghapus unggahan hoaks tersebut setelah mendapatkan penjelasan dari kita. Membangun budaya internet yang sehat dimulai dari percakapan-percakapan kecil yang penuh empati dan rasa hormat di ruang digital kita masing-masing.
